Sunday, 11 January 2015

Rancangan Tuhan : Target

“Aku tidak akan menawarkan hal yang sama dikemudian hari, jika kau percaya itu akan membawa perubahan, saatnya kau ambil apa yang menurutmu benar!” pria tua yang sejak satu jam tadi menawarkan hal yang sama kepadaku seakan tak jera aku tidak menanggapinya. Bus yang kami tumpangi begitu sarat dengan penumpang, seperti layaknya di Ibu Kota, di kota inipun sama saja, tidak ada yang peduli tentang apa yang terjadi di depan mata mereka. Aku menatap ke luar jendela masih bersikap acuh tak acuh terhadap laki-laki yang berbadan agak bungkuk itu, “Aku juga melihat ada api di bola matamu, sebagai mahasiswa tampaknya kamu tidak akan memilih yang salah, bukan?” jantungku serasa berhenti, setelah satu jam berlalu, kali ini aku melihat dengan seksama lawan bicaraku, “Wah wah wah… matamu lebih bersinar dari yang aku perkirakan.” katanya lagi.

Sunday, 4 January 2015

Chintya



“Kau mengerti apa yang bunda katakana tadi?” tanyaku bersemangat dengan senyum sumringah kepada Chintya, anakku yang kini mulai menginjakkan kakinya di kelas dua Sekolah Dasar atau SD, wajahnya juga tak jauh berbeda senangnya diriku, ia seakan bisa mengerti bahasa lisan dan tubuhku yang menantikan laporannya yang menggemberikan darinya, dan itu setiap hari aku seakan menerapkannya kepada Chintya, agar dia termotivasi dengan baik dalam belajarnya.

Friday, 19 December 2014

Celoteh



"Kenapa kura-kura itu bisa menang, Bu?" tanya Hasan, seorang bocah yang duduk di tengah dengan teman-temannya yang lain. Pertanyaan itu terlontar seusai aku membacakan dongeng klasik antara Kelinci dan kura-kura yang berlomba lari.
Ya, kalian pasti pernah dengar. Kelinci sombong mengajak kura-kura berlomba lari, padahal ia tahu binatang bertempurung itu terkenal dengan jalannya yang lambat. Namun kura-kura cerdik, ia meminta bantuan beberapa temannya sesama kura-kura untuk menunggu di beberapa titik dan bersemubunyi.

Wednesday, 17 December 2014

Rancangan Tuhan : Percaya

Aku tersenyum melihat wajahnya dari balik kaca yang bening. Tabung oksigen disambungkan dengan selang menuju ke gidung si Kakek.

Matanya yang sayu menggambarkan bahwa penyakit yang dideritanya tidak mudah untuk seusianya. Entah kenapa aku beberapa kali meneteskan air mata untuknya, padahal aku bukan bagian dari dirinya atau keluarga, aku hanya... Ah, apa ya sebutannya? Tempat sampahnya mungkin. Tapi yang dibayar tentunya.

Thursday, 11 December 2014

God’s Plan : The Origins (Rancangan Tuhan : Awal Mula)

Seorang pemuda tampak kewalahan membawa sebuah buku tebal di kedua tangannya yang menopang dengan sangat hati-hati. Buku tua yang diminta sang atasannya entah untuk apa di malam yang larut ini. Lorong yang biasa ia lalui, malam ini terasa sangat panjang, tanpa liku yang berarti, lurus dan membosankan. Dia lupa berat buku yang ia bawa, pastinya ini membuat keringatnya mengalir deras, bahkan ia dapat merasakan cairan tersebut menembus kemeja bahkan jasnya yang tebal. Akhirnya sebuah pintu kayu tebal dan besar juga tinggi ada dihadapannya. 

Awal (Sebuah Janji)



“Hei…” suara itu membangunkan tidurku, “Apa di sana ada dirimu?” tanya suara itu dengan lantang. Aku usap-usap mataku dengan cepat, aku sangat bersemangat mendengar suaranya, “Kau yang kemarin itu?” tanyaku balik kepadanya, “Iya, aku yang kemarin! Kemarin kita bertemu dan tertawa bersama!” serunya sangat riang.
Aku sungguh senang bisa bertemu dengannya lagi, “Sudah berapa lama kau tidur disana?” tanyanya lagi, aku menggelengkan kepala, “Entah, kawan!” jawabku cepat, aku benar-benar bersemangat, “Rasanya semalam kemarin aku tidur, mungkin seharian kemarin aku tertidur…” aku menggerak-gerakkan kakiku, “Dan kau tahu ini hari apa?” aku menunggu jawabannya, namun ia tidak terdengar untuk beberapa lama, mungkin beberapa menit, “Hei, kau masih disana?” aku masih menunggunya, namun belum ada jawaban.

Thursday, 30 October 2014

Aroma Masa Lalu


Hanya segelintir orang saja yang berada di peron lima ini, salah satunya diriku. Menunggu keretaku yang akan datang, katanya, beberapa menit lagi.
"Kapan kamu pulang?" tanya Mbak Ila saat aku menelponnya untuk menanyakan kabar orang tuaku, "Aku belum tahu, Mbak. Aku belum dapat ongkos pulang, apa lagi untuk diberikan ke ibu." kataku seraya menjawab pertanyaannya. Saat itu aku mendengarnya mendesah, "Sudah lima tahun kau tidak pulang, disini semua mengkhawatirkanmu, memang kita berharap kamu bisa dapat kehidupan yang layak di Jakarta." katanya.