L'amour De Soi passe Par Ici
La lumière qui est venue me saluer
Comme un ange a atterri dans les bras du ciel
Comme la femme de long pour le soleil du matin
Lorsque le sang-froid continue d'envelopper l'amour doux
...L'amour ne va pas de soi
Love n'a pas non plus aborder les gens qui ne veulent pas savoir
Mais...
L'amour vient au bon moment
Où est-il vraiment besoin de sa présence
Angel est venu m'embrasser
Répandre le parfum de l'éternel dans mon âme
Love m’était venu
Love est venu à moi à travers sa mer
Et je ne vais pas lâcher
Travail: Ramadhan Ali (Jakarta, 20 Avril 2011)
Rabu, 18 Maret 2009
Surat Untuk Sahabatku
Sahabat..
Entah apa aku yang buta
Atau memang kau yang menghukumku
Atau kau menghukum dirimu sendiri
Aku hanya bisa memandangmu
Tanpa bisa menyentuh dirimu
Sahabat..
Ketika jalan itu terpisah untukku
Aku menyadari akan kekalahanku
Aku sadar atas apa saja yang mengetuk dan menamparku keras
Melemparku jauh dari rasa sayang
Namun tanganmu masih bisa aku dambakan
Dari kehadiran sebuah nalar yang terbuka
Sahabat..
Mungkin suratan itu yang mengharuskanku untuk melepas semuanya
Menjauhi apa yang aku cintai
Mengutuk prinsip kebodohan yang menjadi egomu
Memuntahkan kemunafikan yang seharusnya menahanku melangkah ke depan
Sahabat..
Entah apa lagi yang harus aku lepas
Untuk mengedepanku kembali
Untuk mengakhiri kisah yang tak perlu datang
Maka..
Aku harus mengakhirinya
Suratku..
Datang untuk seorang sahabat terbaik..
Kamis, 29 Mei 2008
Hukuman Hidupnya
Deru yang memekakkan telinga
Seutas tali bergemuruh membelah riak itu
Seakan bergerak menerjang muara
Lalu membiarkan semua itu seperti tidak pernah terjadi
Awalan yang memuakkan
Denting yang tak perlu dilupakan oleh alam
Riak yang seharusnya menumbuhkan benih-benih keheningan
Sekarang menjadi musuh yang saling berhadapan
Bak masa yang lewat atau belum terjadi
Gemuruh itu tetap terdengar nyaring
Meneriakkan yel-yel dendam
Mengutuk keberadaannya di muara itu
Menuntut sesuatu yang bukan hak patennya
Karyanya yang susah payah ia tempuh
Hanya menjadi hiasan di sudut-sudut syair indah pujangga lain
Entah di mana keadilan atasnya
Kenapa semuanya menjadi berbalik menyerang
Seakan dia tidak berguna lagi
Besi tua yang terbengkalai
Sugumpal daging yang menjadi mayat hidup
Setitik darah berbau busuk
Juga potongan-potongan misi yang berubah menjadi arsip tua
Itu yang terjadi
Itu yang menimbunnya
Itu yang membuatnya berang
Itu pula yang memusnahkan impiannya
Karyanya yang tak berguna
Karyanya yang mngutus sang pembawa bencana
Karyanya yang mengaruskannnya membungkam diri
Menekuk kaki lalu berjongkok di sudut ruang gelap yang bau dan berlumut lembab
Semuanya bukan menjadi bagiannya
Bagiannya ada di balik semua itu
Bagiannya ada pada kehendaknya
Bagiannya yang hanya bisa ia rasakan
Ketika tangannya menekuk dan bersimpuh
Atas kekejaman yang ia terima
Tak pernah terpikir akan begini
Kehilangan jati diri
Kehausan akan pujian
Dan dendam akan kehancurannya
Hanya bisa menatap langit
Membuka mulut
Dan berteriak…
“Hentikan!!!...”
“Hentikan ocehan tua itu!!!...”
“Aku hanya binatang yang berbau busuk…”
Air matanya mengalir deras
“Aku hanya binatang yang membutuhkan pengakuan!!!...”
“Binatang yang berharap akan lemparan sengyum…”
Lalu waktu menutupnya
Hilang…
Lebih baik seperti ini
Tidak ada yang bisa melihatnya
Wanpun sulit untuk melindunginya dari panas
Tanah juga enggan untuk menelannya
Cacing-cacing merindukannya
Tapi bukan dirinya
Hanya jasad tuanya yang rapuh
Atas Nama Cinta
Ramadhan Ali (29-06-2007)
Cita berulang pada dasar yang sama
Dimana keraguan terus menghantui hati
Keraguan yang tertulis pada sebagian masa
Keraguan yang terukir pada sebagian halaman
Halaman kosong tanpa titik
Mengiris memang melihat apa yang seharusnya ada
Menyakitkan memamng mentaati sesuatu yang bukan dai dasar kemauan diri
Persamaan yang hilang tak tampak
Dan pergulatan perbedaan yang menyadari keberadaannya
Rasa itu datang atas nama cinta
Lambat untuk mengakui keadaan yang merapat
Namun cepat sekali berlari untuk menghindari akan fakta aneh yang menyulut sang lidah api menjalar
Sekali lagi…
Kehampaan itu datang atas nama cinta
Pelak hati ini menghantui setiap harinya
Tak ada kesimpulan yang mampu mengutarakan hati
Tak ada kesempatan pada diri menyusun segumpal garam yang pahit dan memuakkan
Dan tak ada satu ruang kosong untuk bernapas lega
Satu kata lagi…
Riak itu datang atas nama cinta
Akhir dari semua yang yang berujung
Lepas dari semua masalah yang terikat pasti
Namun lelah yang didapat pada hari kebebasan
Tak pernah berlalu untuk mengucakan kata manis
Tak pernah lupa untuk mencium kening sang rembulan pada saat mentari menghunuskan cahaya
Tak ada kata yang pantas…
Kekuatan itu datang atas nama cinta
Sentuhan Nurani
Ramadhan Ali (29-06-2007)
Penghakiman itu entah kapan datang
Bagi nurani yang terkelupas jiwa
Dan sugesti yang menjemukan
Tak ada satu intuisipun yang menjadi jalan bagi sebuah dosa
Tak ada satu nuranipun yang mengharuskan diri untuk mengakhiri pertikaian akan matahari pagi
Semuanya hanya omong kosong pada siang hari
Seperti bocah yang teerus berlari tanpa arah dan tanpa jati diri
Tak ada…
Sungguh tak ada itu…
Nurani apa yang ditanyakan?
Hati siapa yang diperebutkan?
Atas apa semua yang menjadi pertimbangan nurani untuk semua penyelesaian yang ada
Sungguh semua adalah kebehongan
Kebohongan yang telah berusia jutaan tahun
Membatu dan tak bisa terbongkar
Akan hari itu tiba?
Apa orang masih percaya?
Akankah penghapusan itu ada?
Kapan?
Kapan?
Dunia Tanpa Nama
Layaknya tersiksa dan terendam dalam badai yang lembab dan dingin
Kakiku masih terus merekahkan langkahnya
Mengikuti arah utara
atau selatan, atau bahakan barat yang hampa
Entah aku buta arah akan itu
Sesekali telingaku berdengung bak gemuruh yang mengguncang
Nama itu tak tampak
Namun sangat jelas di telingaku
Lambat namun pasti langkahku semakin landai
Pelan...
Pelan...
Sampai aku terjatuh diantara aspal jalan...
Aku buta!!!...
Aku tuli!!!...
Dimana aku sebenarnya??...
Banyak yang menoleh ke arah ku
Semuanya juga sama
Buta dan tuli...
Entah ini ada dimana...
= Ramadhan Ali (2 Juni 2008) =
Lukisan Permata Hati
Aku lihat sebuah pertama
Di dalam genggaman alam bawah sadarku
Dimana aku terus berlari tanpa henti
Tapi aku tak dapat menggapainya
Pengaruh cahaya yang membelenggu pikranku
Mengantarku pada titik cerah dalam dunia sadarku
Sedikit demi sedikit mataku terangkat menikmati cahaya
Dan aku tahu kau yang disana
(Hanazawa, 5 Juni 2008)
Minggu, 2008 Juni 08
Dia Datang Atas Nama Cinta
Dia datang atas nama cinta
Dia menyapaku atas nama hati
Dia merangkulku atas dasar sayang
Dan...
Dia meninggalku atas nama lain
Pernah terasa yang menghangatkan tengkukku
Seperti setetes embun dalam tegukku
Masuk ke kerongkonganku yang kering
Atas dasar sebuah cinta
Sang pujangga cinta akhirnya harus kalah dengan takdir
Sang pujanga hati akhirnya bertekuk lutut pada kenyataan
Realita yang tercium busuk dan memuakkan
Semuanya atas dasar hati
Ketika aku mulai mengenal hati berbunga di tengah kabut pagi
Meleburkan sedikit penat malam yang terasa berat
Aku baru sadar satu hal
Aku masih bersama dalam pelukan orang lain
Sang pujangga cinta tak bisa berlaku banyak
Hanya detik yang menyambar lukanya yang semakin dalam
Maka...
Akupun harus tahu
Kabut indah namun tak akan tersentuh nyata
Sabtu, 2008 Juli 26
Malam Kota Hitam
Siang menyurut terganti kegelapan yang kelam
Mengusung sebuah penantian yang tak kunjung diinginkan nirwana
Melintasi sungai yang telah pekat pada perkampungan di tengah kota
Nama itu membau ke semua arah dan tak menentu
Sungguh penantian ringan yang panjang...
Langkah itu terhenti di tengah persimpangan rel kereta yang tajam
Menengahi dua arah yang berlainan arah menunju persimpangan yang lain
Nama itu tersebut lagi...
Lucu...
Dunia seperti acuh tak acuh...
Bumi seakan menolak apa yang dirindukannya...
Nama bodoh itu terlintas lagi...
Goresan sketsapun masih setengah jalan untuk selesai
Namun malam terus berlanjut
Semakin larut...
Semakin larut...
Lampulah yang menyapa lembut...
Akankah Dia Datang Atas Nama Cinta?
Langkahku terhenti di tengah malam yang gelap
Pada nurani yang tertutup
Aku dapat mendengar suaranya memanggilku
Desahan nafas yang memburu
Ketika sejuta kenikmatan melampaui pemikiran dunia
Aku datang atas nama cinta
Namun entah
Apa aku harus tetap berdiri atas nama cinta?
Kemana cinta berlalu atas dasar hati
Aku meringkuk dalam gelap dan tak seorangpun ambil tahu
Pekikan itu menutup mataku dalam-dalam
Aku sadar, namun aku tak peduli
Dia datang atas nama cinta
Dan dia pergi mengucapkan cinta
Aku berada didekatnya
Ketika ia disanding orang
Kemanakah cinta pergi?
Akankah dia tetap datang atas nama cinta?
Aku tahu...
Kekuatan takdir bukan akhir dari masa
Namun keputusan terbelakang akan menentukan akhir
Pada siapa aku berpaling...
Awal November
Kali ini langkah itu terhenti pada titik yang panas
Rasa itu terlular di sebagian tubuh
Membakar nafsu dan adrenalin seorang sepertiku
Nama yang tak akan putus dalam ingatan
Nama yang tak terhapus dalam mimpi dan kenangan
Bukan sebatas rasa ingin tahu akan dunia
Hanya perberlakuan kuasa Tuhan yang mematahkan hati
Namun langkah itu terhenti di awal November
Hujan di awal bulan yang membawa sedikit penyesalan dan kebahagian
Tangispun tak berarti dalam bulan ini
Semuanya tetap terjadi
Awal musih hujan yang lembab dan membekukan hati
Aku akan melupakannya
No comments:
Post a Comment
Untuk kemajuan blog saya, harap tinggalkan komentar, kritik, masukkan, dan yang lainnya untuk saya. Sesudah dan sebelumnya saya ucapkan banyak-banyak terimakasih.